Senin, 22 Desember 2014

Sekarang Saya Berkepala Dua!!

          Di sebuah kecamatan kecil di sebelah timur Pulau Jawa, calon keluarga kecilku yang terdiri dari ayah dan ibu sedang menunggu kehadiran anak pertamanya yang nantinya akan menjadi sumber kebahagiaan bagi keduanya. Alhamdulillah, atas berkat, rahmat dan Karunia Allah SWT, terdengar suara tangisan bayi yang sangat mungil, berjenis kelamin perempuan, dan memiliki berat badan 2,6 kg lahir di muka bumi dari rahim seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang. Sang bayi lahir di sebuah klinik bersalin tepatnya di suatu gang kecil yang bertempat di JL. KH. Moch Kholil, Kecamatan Bangkalan, pada hari Kamis tepatnya Malam Jumat Kliwon, tanggal 22 Desember 1994 ia dilahirkan dari rahim ibu R. Enny Yuliastutik, dengan suaminya Suwarno. Bayi mungil itu adalah saya, yang mereka beri nama “Desyta Ayu Suwardani”. Dan orangtua saya memberi nama panggilan “Desy” utnuk anak pertamanya. Orangtua saya memberi nama dengan berbagai makna, dimulai dari kata:

    “Desyta” hanya karena pada saat itu saya lahir tepat pada bulan Desember.


    “Ayu” menurut bahasa jawa yang berarti cantik,  cantik paras, cantik hati, yang        senyumnya dapat menentramkan hati. Amin....


          Dan nama yang terakhir, yaitu “Suwardani”. Saya yakin orangtua saya tidak akan salah memberikan nama ini, dan alangkah beruntung serta bangganya saya membawa marga ini pada akhir nama saya. Karena kata ini sesungguhnya tidak memiliki makna khusus, hanya sebuah singkatan kata. Suwar, diambil dari nama ayah saya, Suwarno. Da hanyalah sebagai kata penghubung yaitu dan, kemudian kata Ni diambil dari nama ibu saya yaitu Yuni. Jadi, makna dari kata “Desyta Ayu Suwardani” yaitu anak perempuan cantik yang lahir di bulan Desember anak dari Suwarno dan Yuni. Nama yang sangat sederhana namun mengandung makna yang indah.



        Masa kecil saya habiskan di sebuah gang kecil, tempatnya tidak jauh dari pusat Kota Bangkalan tepatnya di JL. KH. Moch. Kholil VII nomor 16 yang terkenal dengan sebutan “kramat tikus”. Nama daerah yang unik namun isinya penuh dengan para tetangga yang penuh dengan keramahan. Karena letaknya berada di pusat kota, alhamdulillah saya tidak merasa kekurangan apapun bila dibandingkan dengan anak-anak seusia saya yang kala itu yang berada jauh dari hiburan, pendidikan yang layak, dan lingkungan yang memadai, justru saya sebaliknya. Alhamdulillah orangtua saya selalu memfasilitasi apapun yang saya inginkan, selama keinginan saya tidak berlebihan bagi mereka.


***
       Tak terasa waktu sudah terus berganti. Setiap tahunnya kalenderpun berubah. Saat itu, di tahun 2012 saya mencoba peruntungan untuk masuk Universitas Negeri dengan mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Saya memilih Universitas Trunojoyo Madura dan jurusan PGSD sebagai pilihan pertama, sedangkan tekhnik informatika pada pilihan kedua. Atas bantuan Allah SWT dan berkat doa yang saya haturkan setiap sholat, alhamdulillah saya di terima sebagai mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura jurusan PGSD. Tahun 2012/2013, merupakan awal saya masuk dan diterima sebagai mahasiswa aktif di UTM. Sejak kecil saya sudah pernah bertekad akan mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa. Karena guru SMA saya pernah berkata, bahwa terputusnya amalan kita pada saat meninggal selain tiga perkara yaitu amal jariyah, doa anak shaleh, dan ilmu yang bermanfaat. Saya berharap ilmu apapun yang nantinya saya bagikan kepada siswa saya, semoga dapat bermanfaat untuk kedepannya. Amin.

       Selain di sibukkan dengan kegiatan kampus, dalam hal bisnis saya disibukkan dengan toko online saya yang membuka jasa karikatur atau ilustrasi sebagai tambahan uang jajan. Memang tidak dipungkiri bahwa mahasiswa zaman sekarang harus memiliki uang jajan yang cukup. Entah itu untuk keperluan tugas, apalagi kalau sudah hangout sama teman. Sejak SMA kelas 1 saya memang sangat suka sekali mencoba bisnis kecil-kecilan. Mulai dari jualan bros dari flanel. Saya masih ingat sekali ketika saya mempromosikan hasil bros saya di depan para guru-guru SMA. Dan alhamdulillah tidak sedikit para guru yang memuji usaha saya yang bisa berbisnis tanpa malu. Bahkan ketika kelas 2 SMA saya juga pernah sampai jualan air gelas di dalam kelas. Malu? Tidak. Malah banyak sekali teman-teman saya yang mendukung apapun bisnis yang saya jalankan.




          Kembali lagi dari bisnis ilustrasi, dari bisnis ilustrasi ini saya meraup untung yang cukup besar. Lumayan, kita tanpa mengeluarkan modal sepeserpun, hanya modal laptop, aplikasi grafis, dan kreatifitas, maka customerpun puas. Setiap bulannya saya bisa mendapatkan keuntungan kurang lebih Rp. 300.000. Lumayan untuk menambah uang jajan. 


***

        Berbicara tentang keluarga, sekarang saya tinggal bertiga bersama ibu dan adik laki-laki saya, namanya Yayak. Ayah saya meninggal pada tanggal 21 Januari 2011. Pada waktu itu saya masih berusia 17 tahun, usia yang lagi gencar-gencarnya membutuhkan penjagaan yang sangat ketat dari orangtua, terutama orangtua laki-laki. Meninggalnya ayah membuat saya sangat terpukul. Tentu, anak mana yang mau kehilangan salah satu keluarga yang sangat ia cintai. Sulit untuk di percaya pada awalnya. Seumur hidup saya tidak pernah berharap kehilangan sesuatu yang sangat berharga, terutama orangtua. Mungkin Allah punya rencana yang lain dari semua ini, mungkin dengan tidak adanya ayah saya juga bisa belajar bagaimana untuk lebih menghargai orangtua yang masih ada. Sepeninggalnya ayah membuat saya menjadi lebih sadar, jangan pernah mensia-siakan orang tua kita, jangan pernah abaikan perintahnya. Sekarang Cuma lantunan doa-doa saja yang bisa saya panjatkan kepada beliau. Jika saya diberi kesempatan untuk berterimakasih kepada ayah, saya ingin berterimakasih karena tak pernah berhenti untuk mengerti saya, telah mengajari saya banyak hal. Terimakasih sudah sudah membuat saya merasa diistimewakan, terimakasih atas kesabarannya selama ini, yang walaupun sakit masih memaksakan untuk melakukan apapun demi membahagiakan anaknya. Terimakasih yah, maafkan anakmu yang tidak pernah mengucapkan Terima Kasih....


***



                    Hari ini, tepatnya di tanggal 22 Desember 2014 usia saya bertambah satu, dari umur 19 menjadi 20, dari yang awalnya berkepala satu menjadi berkepala dua. Dan seharusnya dari yang selalu bersikap kekanak-kanakan mulai ditingkatkan lagi agar lebih dewasa. Tentu kedepannya akan banyak perubahan dari kepala dua ini. Semakin banyak kepalanya semakin banyak pula tantangan yang akan dihadapi. Apalah arti sebuah angka jika kita selalu bersyukur kepada Allah sang maha pemberi hidup. Saya bertekat, saya harus mengalami perubahan! Perubahan yang berbeda dengan biasanya. Sudah cukup hidup yang serba flat! Okay.

                  Saya berterimakasih banyak untuk orang-orang yang ada di sekitar saya, yang selalu memberikan support-nya sampai saat ini. Terimakasih sudah masuk dalam catatan penting kehidupan saya selama saya menempati angka sepuluh-an. “Make a wish”-nya tahun ini, semoga tidak ada Desyta Ayu Suwardani yang lemah dan kurang menyukai tantangan. Life is too short to worry about anything that’s not chalenging. Let’s help me to spend my age with perfect happiness, won’t you? ;)



0 komentar:

Posting Komentar